FEBI IAIN Parepare — Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Parepare, Dr. Andi Bahri, M.E., M.Fil.I, tampil sebagai narasumber dalam Dialog Publik yang digelar Yayasan Akademi Imajinasi Sampan (Sampan Institute) pada Jumat, 5 September 2026, di Perpustakaan Panrita Kota Parepare.
Dialog yang berlangsung pukul 16.00–18.00 WITA ini mengangkat tema “Sastra sebagai Ingatan dan Identitas Kota”.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program Gelanggang Buku bertajuk “Bayang dan Ingatan dalam Tubuh Kota”, yang difasilitasi melalui program bantuan pemerintah bidang kebahasaan dan kesastraan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Selain Andi Bahri, dialog ini juga menghadirkan Siti Kurniati Rasad sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Andi Bahri menempatkan sastra bukan sekadar karya seni, melainkan sebagai dokumentasi peradaban dan benteng moral yang menahan laju erosi kebudayaan. Ia menggambarkan sastra sebagai “kitab peradaban”, tempat tersimpannya etika dan nilai kolektif masyarakat sekaligus perekam sejarah emosional, spiritual, dan sosial yang kerap luput dari arsip sejarah formal.
Menyoroti konteks lokal, Andi Bahri menautkan gagasan itu dengan tradisi Bugis-Islam. Menurutnya, naskah dan sastra lisan seperti Lontara turut membentuk norma kehidupan masyarakat, dan nilai luhur siri’ na pesse dapat dijembatani dengan ajaran Islam yang ramah dan inklusif di ruang publik. Ia juga membaca Parepare sebagai kota bandar (port city), sebuah arena pertemuan beragam budaya, tempat sastra merekam denyut keseharian warga, gelombang perdagangan, dan spiritualitas kehidupan bahari.
Andi Bahri turut menekankan dimensi ekonomi budaya. Ia berpendapat daya saing kota masa kini tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi dari kekuatan narasi kota (city story) yang mampu menumbuhkan pariwisata berbasis kebudayaan dan industri kreatif lokal.
Monumen dan artefak fisik, katanya, memerlukan “jiwa” berupa karya sastra agar ingatan kota tidak menjadi artefak mati.
“Tanpa sastra, kota hanyalah tumpukan beton tanpa jiwa. Sastralah yang merawat ingatan dan menyelamatkan peradaban," katanya.
Kehadiran Dekan FEBI IAIN Parepare sebagai narasumber menandai jalinan sinergi antara Sampan Institute dan lingkungan akademik FEBI IAIN Parepare. Keterlibatan itu tidak berhenti di ruang dialog, sejumlah civitas akademik FEBI turut ambil bagian dalam pelaksanaan program, sehingga forum literasi komunitas ini bertemu langsung dengan ekosistem keilmuan kampus. Titik temu tersebut terasa relevan karena tema yang diangkat menyentuh ranah ekonomi budaya, wilayah yang beririsan dengan kajian ekonomi syariah dan pengembangan masyarakat yang menjadi fokus FEBI.
Kolaborasi semacam ini menegaskan bahwa gerakan literasi kota dapat tumbuh dari perjumpaan berbagai pemangku kepentingan. Komunitas sebagai penggerak, dan perguruan tinggi sebagai penyumbang perspektif keilmuan. Bagi FEBI IAIN Parepare, keterlibatan dalam Gelanggang Buku menjadi salah satu bentuk kontribusi akademik pada ruang publik sekaligus wujud pengabdian yang menautkan kampus dengan denyut kebudayaan masyarakat Parepare. Diharapkan, sinergi ini dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama yang lebih terstruktur di masa mendatang.
Dialog Publik ini menyasar pelajar, mahasiswa, guru, praktisi sastra, pegiat literasi, dan masyarakat umum. Melalui forum ini, penyelenggara berharap tumbuh pemahaman publik yang lebih dalam terhadap isu literasi dan kesusastraan, sekaligus menguatnya ekosistem literasi di Kota Parepare.