FEBI IAIN Parepare— Ujian promosi doktor Sri Wahyuni Nur, M.Ak., Ketua Program Studi Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam atau FEBI IAIN Parepare, tidak hanya menjadi capaian akademik personal. Karya disertasinya menghadirkan pembacaan penting tentang kinerja pemeriksa pajak, terutama dari sisi perilaku individu, etika kerja, dan tekanan dalam lingkungan kerja sektor publik.
Dalam disertasinya yang berjudul “Pengaruh Kepribadian Dark Triad, Etika Kerja, dan Voluntary Behavior terhadap Kinerja Pemeriksa Pajak Dimoderasi oleh Tekanan Waktu”, Sri Wahyuni Nur menempatkan administrasi perpajakan bukan semata sebagai urusan regulasi, teknologi, dan sistem. Ia melihat bahwa keberhasilan kerja pemeriksaan pajak juga sangat ditentukan oleh karakter, nilai kerja, dan perilaku profesional para pemeriksa pajak.
Penelitian ini melibatkan 222 pemeriksa pajak yang bertugas pada Kantor Pelayanan Pajak atau KPP di seluruh wilayah Sulawesi. Data penelitian dianalisis menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares atau SEM-PLS untuk melihat hubungan antarvariabel, baik secara langsung, parsial, simultan, maupun melalui efek moderasi.
Sri Wahyuni Nur menegaskan bahwa pemeriksa pajak memiliki posisi strategis dalam menjaga efektivitas administrasi perpajakan. Tugas mereka tidak hanya menuntut kecakapan teknis, tetapi juga objektivitas, akuntabilitas, integritas, dan kemampuan mengambil keputusan secara profesional.
Disertasi ini berangkat dari gagasan bahwa kinerja pemeriksa pajak tidak cukup dijelaskan melalui kemampuan administratif semata. Dalam praktiknya, kualitas pemeriksaan juga dipengaruhi oleh cara individu memaknai tugas, mengelola tekanan, membangun etika kerja, serta menunjukkan perilaku sukarela yang mendukung efektivitas organisasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika kerja dan voluntary behavior memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kinerja pemeriksa pajak. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, kemauan membantu rekan kerja, partisipasi aktif, dan kepedulian terhadap organisasi menjadi faktor penting dalam mendukung pelaksanaan tugas pemeriksaan secara profesional.
Dengan kata lain, kinerja pemeriksa pajak tidak hanya lahir dari kewajiban formal. Kinerja juga tumbuh dari kesadaran personal untuk bekerja dengan etis, membantu sistem berjalan lebih baik, dan mengambil peran lebih dari sekadar tugas yang tertulis.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa karakteristik kepribadian perlu mendapat perhatian dalam pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, merespons tekanan, membangun relasi kerja, dan menjalankan tanggung jawab profesinya.
Salah satu temuan penting dalam disertasi ini berkaitan dengan tekanan waktu. Penelitian Sri Wahyuni Nur menemukan bahwa tekanan waktu tidak selalu memengaruhi hubungan antara karakter individu dan kinerja. Namun, dalam kondisi tertentu, tekanan waktu dapat mengurangi kesempatan pegawai untuk melakukan perilaku sukarela yang sebenarnya penting bagi efektivitas kerja tim.
Temuan ini memberi pesan bahwa kinerja optimal tidak hanya bergantung pada kompetensi individu. Organisasi juga perlu mengelola beban kerja, ritme kerja, dan lingkungan kerja agar pegawai tetap memiliki ruang untuk bekerja secara profesional, kolaboratif, dan berintegritas.
Nilai kebaruan dari penelitian ini terletak pada keberanian mengintegrasikan perspektif akuntansi keperilakuan dan akuntansi sektor publik dalam membaca kinerja pemeriksa pajak. Selama ini, kajian mengenai Kepribadian Dark Triad lebih banyak dikembangkan dalam konteks sektor privat. Sri Wahyuni Nur memperluas penerapan kajian tersebut ke lingkungan administrasi perpajakan sektor publik.

Disertasi ini juga menggabungkan Teori Atribusi, Teori Kognitif Sosial, dan Theory of Planned Behavior dalam satu model penelitian. Melalui integrasi teori tersebut, penelitian ini tidak hanya menjelaskan apa yang memengaruhi kinerja pemeriksa pajak, tetapi juga bagaimana perilaku, keyakinan, karakter, dan tekanan kerja saling berinteraksi dalam membentuk kinerja profesional.
Dalam konteks administrasi perpajakan, temuan ini relevan karena pemeriksa pajak berada pada posisi yang menuntut ketelitian, independensi, dan kepercayaan publik. Ketika etika kerja dan perilaku sukarela tumbuh kuat, pemeriksa pajak tidak hanya bekerja untuk memenuhi prosedur, tetapi juga menjaga kualitas pelayanan publik dan kredibilitas institusi.
Melalui penelitiannya, Sri Wahyuni Nur memberi penekanan bahwa pengembangan sumber daya manusia di sektor perpajakan harus bergerak lebih jauh. Penguatan SDM tidak cukup hanya melalui pelatihan teknis, tetapi juga perlu menyentuh aspek karakter, etika kerja, perilaku organisasi, dan pengelolaan tekanan kerja.
Karya akademik ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi pengembangan ilmu akuntansi, khususnya akuntansi keperilakuan. Di sisi lain, temuan penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi pengambil kebijakan dalam membangun sistem pengembangan SDM yang lebih profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Bagi FEBI IAIN Parepare, capaian akademik Sri Wahyuni Nur menjadi bagian dari penguatan tradisi riset dosen. Disertasi ini menunjukkan bahwa kajian akuntansi tidak hanya berhenti pada angka, laporan, dan sistem, tetapi juga menyentuh manusia sebagai aktor utama dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan tanggung jawab publik.
Keberhasilan Sri Wahyuni Nur meraih gelar doktor menjadi kebanggaan bagi keluarga besar IAIN Parepare. Capaian tersebut sekaligus memperkuat komitmen institusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengembangkan riset yang relevan, dan menghadirkan kontribusi akademik bagi penyelesaian persoalan strategis di tingkat nasional.