FEBI IAIN Parepare — Dr. Hj. Ulfa Hidayati, M.M., Ketua Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam atau FEBI IAIN Parepare, menyampaikan materi dalam kegiatan Guest Lecture di Management and Science University atau MSU Malaysia, Senin, 6 Juli 2026.
Dalam forum akademik tersebut, Dr. Hj. Ulfa Hidayati hadir sebagai dosen tamu dengan membawakan materi bertajuk *“The Power of Voice Behaviour: The Foundation of Culture Taro Ada Taro Gau in Realizing Organizational Psychological Safety.”* Materi ini membahas pentingnya keberanian bersuara dalam organisasi dan kaitannya dengan nilai budaya Bugis *Taro Ada Taro Gau*.
Dekan FEBI IAIN Parepare, Dr. Andi Bahri S., M.E., M.Fil.I., menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Dr. Hj. Ulfa Hidayati sebagai narasumber Guest Lecture di MSU Malaysia. Menurutnya, materi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan organisasi modern, termasuk perguruan tinggi.
“Kami mengapresiasi kehadiran Dr. Hj. Ulfa Hidayati sebagai narasumber Guest Lecture di MSU Malaysia. Materi tentang voice behaviour dan Taro Ada Taro Gau sangat relevan dengan penguatan organisasi hari ini. Lembaga membutuhkan budaya yang memberi ruang untuk bersuara, tetapi tetap berpijak pada etika, kepercayaan, dan tanggung jawab,” ujar Andi Bahri.
Dalam paparannya, Dr. Hj. Ulfa Hidayati menekankan bahwa budaya organisasi tidak cukup hanya hadir dalam dokumen, slogan, atau nilai yang tertulis. Budaya yang sesungguhnya terlihat dari perilaku sehari-hari, terutama ketika anggota organisasi mampu menjaga kesesuaian antara ucapan dan tindakan.
“Budaya bukanlah apa yang tertulis di dinding organisasi, tetapi apa yang dilakukan ketika tidak ada yang mengawasi. Taro Ada Taro Gau mengajarkan bahwa kepercayaan lahir ketika ucapan dan tindakan berjalan bersama,” ujar Ulfa Hidayati.
Menurutnya, prinsip *Taro Ada Taro Gau* memiliki relevansi kuat dalam membangun *organizational psychological safety* atau rasa aman psikologis dalam organisasi. Rasa aman itu memungkinkan setiap orang menyampaikan gagasan, kritik, dan masukan tanpa rasa takut terhadap konsekuensi negatif.
Ulfa menjelaskan, *voice behaviour* bukan sekadar keberanian berbicara. Lebih dari itu, voice behaviour adalah bentuk kepedulian terhadap organisasi. Ketika seseorang memberi saran, mengingatkan, atau mengkritisi proses kerja secara konstruktif, ia sedang membantu organisasi untuk belajar dan memperbaiki diri.
“Organisasi yang sehat bukan organisasi yang selalu terlihat tanpa masalah, tetapi organisasi yang memberi ruang bagi orang-orangnya untuk menyampaikan masalah sebelum menjadi lebih besar. Voice behaviour adalah tanda bahwa seseorang peduli dan ingin organisasi bergerak lebih baik,” katanya.
Dekan FEBI menilai, gagasan tersebut penting dalam penguatan tata kelola kelembagaan. Lembaga akademik, kata dia, membutuhkan ruang komunikasi yang sehat agar inovasi, perbaikan layanan, dan penguatan mutu dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Dalam dunia akademik, keberanian bersuara sangat penting. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa perlu memiliki ruang untuk menyampaikan ide dan masukan. Namun, keberanian itu harus berjalan bersama tanggung jawab dan etika,” kata Andi Bahri.
Kehadiran Dr. Hj. Ulfa Hidayati dalam Guest Lecture di MSU Malaysia menjadi bagian dari kontribusi akademik FEBI IAIN Parepare dalam forum internasional. Materi yang disampaikan memperlihatkan bahwa kearifan lokal Bugis dapat dikaitkan dengan isu manajemen organisasi modern.
Melalui kuliah tersebut, FEBI IAIN Parepare menegaskan bahwa organisasi yang kuat tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga kepercayaan. Kepercayaan itu tumbuh ketika ucapan dan tindakan berjalan searah, serta ketika setiap orang merasa aman untuk menyampaikan gagasan perbaikan.