FEBI IAIN Parepare — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam atau FEBI IAIN Parepare menggelar Sharing Session Kompetisi Riset AiriFair BRIN secara daring melalui Zoom, Ahad, 31 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan akademik bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat peluang kompetisi riset nasional, sekaligus memahami strategi penyusunan proposal ilmiah yang berpeluang mendapatkan pendanaan.
Kegiatan tersebut dihadiri Dekan FEBI IAIN Parepare, Dr. Andi Bahri S., M.E., M.Fil.I., sejumlah ketua program studi, para mahasiswa, serta pemateri Yusuf, S.S., awardee riset AiriFair BRIN dari TRG Manuscript and Culture Research Group Universitas Hasanuddin.
Dalam forum tersebut, Yusuf membagikan pengalamannya mengikuti riset bersama BRIN, termasuk bagaimana sebuah gagasan penelitian dapat berkembang menjadi proposal yang kuat dan layak mendapatkan grant. Ia menekankan bahwa riset tidak cukup hanya berangkat dari topik yang menarik, tetapi harus dimulai dari masalah yang jelas, memiliki kebaruan, serta menunjukkan kontribusi akademik dan dampak yang terukur.
Materi yang disampaikan juga menyoroti pentingnya membaca panduan kompetisi, memahami tema dan bidang riset, menentukan fokus kajian, mencermati sistematika proposal, serta menghindari kesalahan administratif. Dalam kompetisi riset, kesalahan kecil pada aspek administrasi dapat menjadi hambatan awal sebelum gagasan ilmiah dinilai secara substansial.
Dekan FEBI IAIN Parepare, Dr. Andi Bahri S., M.E., M.Fil.I., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar fakultas dalam memperkuat budaya akademik dan riset mahasiswa.
“Sharing session ini adalah bagian dari penguatan akademik FEBI IAIN Parepare. Kami ingin mendorong mahasiswa agar tidak hanya aktif di ruang kuliah, tetapi juga berani masuk dalam arena kompetisi ilmiah, menulis gagasan riset, dan menghasilkan prestasi akademik yang membanggakan,” ujar Andi Bahri.
Menurutnya, AiriFair BRIN merupakan salah satu ajang kompetisi ilmiah yang memiliki nilai strategis bagi mahasiswa dan akademisi. Kompetisi tersebut tidak hanya membuka ruang bagi lahirnya gagasan baru, tetapi juga menjadi sarana untuk mengukur kemampuan akademik mahasiswa pada level nasional.
“AiriFair BRIN adalah ajang ilmiah yang bergengsi. Bagi mahasiswa, ini kesempatan penting untuk menguji kualitas gagasan, memperkuat kemampuan menulis proposal, dan membangun kepercayaan diri dalam berkompetisi di tingkat nasional,” katanya.
Dalam paparannya, Yusuf juga mengulas contoh riset yang berhasil mendapatkan pendanaan, antara lain kajian toponimi kuno pesisir Sulawesi Selatan dalam konteks jejaring Jalur Rempah Nusantara serta penelusuran toponimi Jalur Rempah di Kabupaten Barru berbasis manuskrip. Riset tersebut dinilai kuat karena menggabungkan isu strategis nasional, pendekatan interdisipliner, kebaruan sumber data, serta luaran yang realistis dan berkelanjutan.

Dari materi tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada prinsip dasar penyusunan proposal yang kompetitif. Proposal riset perlu menunjukkan hubungan yang jelas antara masalah, tujuan, metode, luaran, dan dampak. Selain itu, peneliti juga harus mampu menjelaskan posisi kebaruan risetnya, memperkuat state of the art, serta merancang luaran yang dapat diukur, seperti artikel ilmiah, database, peta, model, atau dokumentasi budaya.
Andi Bahri berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai forum berbagi pengalaman, tetapi menjadi titik awal pemetaan potensi akademik mahasiswa FEBI IAIN Parepare. Menurutnya, mahasiswa perlu didampingi sejak tahap menemukan ide, menyusun proposal, hingga menyiapkan diri mengikuti kompetisi.
“Harapan kami, melalui kegiatan ini potensi akademik mahasiswa dapat terpetakan dengan lebih baik. FEBI ingin memastikan mahasiswa yang memiliki minat dan kemampuan riset mendapat ruang, arahan, dan dukungan agar bisa menjadi bagian dari kompetisi nasional ini dengan prestasi yang membanggakan,” ujarnya.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan komitmen FEBI IAIN Parepare dalam mendorong akselerasi prestasi akademik mahasiswa, khususnya di bidang riset ilmiah. Melalui forum seperti ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi peserta kegiatan akademik, tetapi juga tumbuh sebagai calon peneliti muda yang mampu membaca persoalan, menyusun gagasan ilmiah, dan memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta masyarakat.