FEBI IAIN Parepare - Ketua Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf (Mazawa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Parepare, Sulkarnain, S.E., M.Si., menjadi narasumber dalam kuliah tamu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Rabu, 9 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Sulkarnain membawakan materi bertajuk “Transformasi Digital dan Inovasi Manajemen Zakat dan Wakaf untuk Mewujudkan Filantropi Islam yang Adaptif dan Berdampak.”
Materi tersebut mengangkat digitalisasi sebagai tantangan sekaligus peluang dalam pengelolaan zakat dan wakaf. Perubahan perilaku masyarakat, perkembangan teknologi, serta tuntutan terhadap layanan yang lebih cepat dan transparan mendorong lembaga filantropi Islam untuk beradaptasi dan tidak lagi bertumpu pada pola pengelolaan konvensional.
Sulkarnain menekankan bahwa transformasi digital bukan sekadar memindahkan proses penghimpunan zakat dan wakaf ke platform daring. Teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperbaiki tata kelola, memperluas jangkauan penghimpunan, meningkatkan transparansi, serta memastikan manfaat dana filantropi dapat diukur secara lebih jelas.
“Transformasi digital jangan dipahami hanya sebagai penggunaan aplikasi atau pembayaran secara daring. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana teknologi membuat pengelolaan zakat dan wakaf menjadi lebih transparan, lebih cepat, lebih mudah diakses, dan yang paling penting, menghasilkan dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Sulkarnain.
Menurutnya, pengelola zakat dan wakaf juga dituntut semakin inovatif dalam membaca kebutuhan masyarakat. Filantropi Islam tidak cukup hanya berorientasi pada penyaluran bantuan, tetapi perlu diarahkan pada program pemberdayaan yang mampu mendorong kemandirian penerima manfaat.
“Zakat dan wakaf memiliki potensi besar untuk menjawab persoalan sosial dan ekonomi. Karena itu, kita harus bergerak dari sekadar menyalurkan menuju memberdayakan. Teknologi memberi kita peluang untuk membuat pengelolaan lebih tepat sasaran, berbasis data, dan terukur dampaknya,” ungkapnya.
Dekan FEBI IAIN Parepare, Dr. Andi Bahri S., M.E., M.Fil.I., mengapresiasi keterlibatan dosen FEBI dalam forum akademik lintas perguruan tinggi. Menurutnya, kehadiran dosen sebagai narasumber di perguruan tinggi lain menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus memperkuat jejaring akademik.
“Dosen FEBI harus hadir membawa gagasan pada isu-isu yang sedang berkembang. Digitalisasi filantropi Islam adalah salah satunya. Zakat dan wakaf tidak boleh tertinggal dari perubahan teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkannya untuk membangun tata kelola yang lebih profesional dan memberi dampak yang lebih luas,” ujar Andi Bahri.
Ia menambahkan, partisipasi Sulkarnain dalam kuliah tamu tersebut menunjukkan bahwa kajian Manajemen Zakat dan Wakaf memiliki ruang pengembangan yang semakin luas, mulai dari aspek teknologi, ekonomi, tata kelola, hingga pemberdayaan masyarakat.
Kuliah tamu di UIN SATU Tulungagung tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kajian akademik dengan perkembangan praktik filantropi Islam. Bagi Prodi Mazawa FEBI IAIN Parepare, transformasi digital merupakan bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi pengelolaan zakat dan wakaf yang semakin profesional, adaptif, transparan, dan berorientasi pada dampak.