Humas IAIN Parepare - Ketua Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf (Mazawa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Parepare, Sulkarnain, S.E., M.Si., kembali berbagi gagasan akademik di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Rabu, 9 September 2026.
Kali ini, Sulkarnain hadir dalam agenda Visiting Lecturer Pascasarjana UIN SATU dengan membawakan materi bertajuk “Crowdfunding Zakat & Wakaf: Strategi Penggalangan Dana ZISWAF Berbasis Platform Digital untuk Generasi Z dan Milenial.”
Dalam paparannya, Sulkarnain mengangkat perubahan pola filantropi di tengah tumbuhnya generasi yang semakin akrab dengan transaksi digital. Menurutnya, lembaga pengelola zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) perlu memahami bahwa pola masyarakat dalam berdonasi turut berubah seiring dengan perkembangan teknologi.
Platform digital membuka peluang penghimpunan dana secara lebih cepat dan luas. Namun, strategi crowdfunding tidak cukup hanya dengan menyediakan kanal pembayaran daring. Pengelola juga dituntut membangun kepercayaan, menyampaikan program secara komunikatif, serta menunjukkan secara jelas dampak dari dana yang dihimpun.
“Generasi Z dan milenial tidak hanya melihat kemudahan berdonasi. Mereka ingin tahu ke mana dana disalurkan, siapa yang menerima manfaat, dan dampak apa yang dihasilkan. Karena itu, digitalisasi ZISWAF harus berjalan bersama transparansi dan komunikasi yang kuat,” ujar Sulkarnain.
Menurutnya, pendekatan kepada generasi muda juga perlu menyesuaikan karakter komunikasi digital yang lebih ringkas, visual, dan interaktif. Media sosial dan platform crowdfunding dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas partisipasi filantropi apabila dikelola dengan strategi yang tepat.
“Teknologi memberi peluang besar untuk membawa zakat dan wakaf lebih dekat kepada generasi muda. Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka tidak sekadar berdonasi sekali, tetapi tumbuh menjadi bagian dari ekosistem filantropi yang sadar, konsisten, dan percaya kepada lembaga pengelola,” katanya.
Dekan FEBI IAIN Parepare, Dr. Andi Bahri S., M.E., M.Fil.I., menilai tema tersebut relevan dengan perubahan lanskap ekonomi dan perilaku masyarakat.
“Pengelolaan ZISWAF harus mampu membaca perubahan zaman. Kalau generasi hari ini hidup dalam ekosistem digital, maka lembaga filantropi juga harus hadir di ruang itu dengan tata kelola yang profesional, transparan, dan kredibel. Teknologi harus memperluas manfaat, bukan hanya mempercepat transaksi,” ujar Andi Bahri.
Ia menambahkan, keterlibatan dosen FEBI dalam agenda Visiting Lecturer di Pascasarjana UIN SATU menjadi bagian dari pertukaran keilmuan sekaligus penguatan jejaring akademik antarperguruan tinggi.
Melalui materi crowdfunding ZISWAF, Sulkarnain mendorong pengembangan filantropi Islam yang lebih adaptif terhadap perilaku generasi digital. Bagi Prodi Mazawa FEBI IAIN Parepare, transformasi tersebut menjadi salah satu isu penting dalam menyiapkan pengelola zakat dan wakaf yang mampu memadukan pemahaman syariah, teknologi, dan strategi komunikasi publik.